banner 728x90

Curup Goa Mata yang Tersembunyi di Lahat (Bag. 1)

banner 468x60
Goa Mata

Curup Goa Mata

Mitos curup Goa Mata

Curup Goa Mata di Jarai adalah sebuah mitos. Fotonya beredar di dunia maya. Namun tidak banyak yang mengetahui secara persis dimana lokasi curup ini. Bahkan lokasinya belum dimuat dalam peta Google sekalipun.

banner 300x250

Karenanya perjalanan menuju curup ini merupakan hal yang sebenarnya kami nantikan. Selain dari penasaran dengan bentuk aslinya, kamipun ingin menjadi yang pertama kali memasukkan curup ini di dalam peta Google.

Perjalanan Penuh Tantangan

Namun perjalanan tidak selalu semulus rencana.

Minimnya data mengenai curup ini – yang kami tahu, si curup berada di desa Serambi, kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat. Sisanya, ya nanya.

Desa Serambi sendiri tidak jauh dari pusat kota Pagar Alam(beberapa wilayah Lahat memang terpotong oleh Kota Pagar Alam), hanya sekitar 20 menit perjalanan ke arah barat. Sedangkan bila dari pusat Kabupaten Lahat, perjalanan menuju desa Serambi bisa menempuh 2,5-3 jam dengan kendaraan roda empat.

Perjalanan menuju desa Serambi dijalani dengan lancar. Jalanan lebar dan beraspal mulus. Setibanya di pasar Jarai, berbelok ke arah utara, sampailah kami di desa Serambi.

Saat Warga Sekitar pun Tidak Tahu

Masalah mulai muncul disini, karena ternyata nama curup Goa Mata sendiri tidak dikenal oleh penduduk sekitar. Kami tidak bisa mendapatkan petunjuk arah yang pasti, selain perkiraan.

Setengah nekad, karena memang sudah lama mengincar tempat ini. Kami lanjut menelusuri jalanan yang kian ke utara (menuju arah kaki gunung Dempo) kian menyempit dan berubah dari jalanan aspal menuju jalanan berbatu.

Jalan menuju curup goa mata

Setengah jam berlalu kami tiba di sebuah persimpangan. Jalan ke utara berlanjut sebagai jalan berbatu terjal. Sedangkan jalan ke barat menyempit dan berakhir di sebuah kebun kopi.

Jalanan Hancur Sepanjang Jalan

Salah satu titik jalan yang rusak parah

Hampir kami memutuskan untuk berjalan kaki sebelum akhirnya seorang pengendara motor “jambrong” (istilah lokal untuk motor bodong) mendekat.

Pria itu menyapa kami ramah. Dan kebetulan sekali dia juga tahu lokasi curup Goa Mata. Akhirnya…

Menurutnya, jarak curup Goa Mata masih 30 menit perjalanan dari tempat berhenti kami. Perjalanan berlanjut menembus kebun kopi milik warga lokal. Jalanannya? Tentu saja tanah. Sontak kedua motor kami kembang kempis mengimbangi laju si jambrong.

Namun ternyata cobaan belum berakhir. Di ujung kebun kopi, perjalanan berlanjut melalui jalan berbatu – sebenarnya lebih mirip sungai kering daripada jalan. Berulang kali tubuh kami terhempas ke kanan dan ke kiri, untungnya tidak sampai terjungkal.

Talang Gumay

Pondokan di Talang Gumay

Dari yang kami ketahui dari pria tadi. Jalanan ini berujung pada satu dusun kecil bernama Talang Gumay.

Rasa penasaran kami semakin menjadi-jadi. Seperti apa wujud warga yang betah tinggal di dusun dengan jalanan sehancur ini.

Tiga puluh menit berlalu dengan lambat. Dan akhirnya kami tiba di Talang Gumay.

Seperti kami duga, tidak ada akses listrik PLN disini. Satu-satunya pasokan listrik berasal dari genset milik warga yang hanya menyala saat malam hari.

Dusun Talang Gumay sebetulnya bukanlah dusun pada umumnya. Melainkan pondokan-pondokan kecil para petani kopi. Mereka – kesemuanya orang dewasa – berjumlah sekitar 50 orang, tinggal di dusun ini sekitar 2-3 minggu, kemudian pulang ke rumah seminggu.

Pondok Petani Kopi

Pondokan disini berwujud gubuk 2 lantai. Lantai bawah digunakan sebagai Gudang dan lantai atas mereka gunakan untuk istirahat.

Ukurannya sekitar 2x 4 meter saja dengan bentuk yang seragam. Terbuat dari kayu dan beratap seng. Ada untaian kabel-kabel di antara pondokan yang merupakan sumber listrik mereka.

Pondokan diatur berderet-deret, dengan dua petak lapangan untuk menjemur kopi di antara deretan-deretan itu.

Kehidupan di Talang Gumay

Lapangan tempat menjemur kopi

Saat kami tiba menjelang tengah hari, warga sedang berkumpul di depan salah satu pondokan. Beberapa pria mengobrol sambil merokok. Lainnya duduk beristirahat.

Hal yang mengesankan bagi kami, tidak ada pandangan kecurigaan saat kami tiba. Semua menyambut ramah. Hal ini yang mulai jarang dijumpai di kota-kota besar. Keramah tamahan dan sikap apa adanya.

Pemandu perjalanan kami – seorang pria berumur 20 tahunan – menyapa kumpulan orang itu lalu mempersilakan kami mampir ke pondokannya.

Tidak ada barang mewah di pondokan itu. Tanpa televisi ataupun perangkat elektronik lain. Empunya rumah pamit sejenak untuk membongkar karung yang dibawanya sepanjang perjalanan. Rupanya karung itu berisi barang kebutuhan sehari-hari, seperti sabun mandi, odol, pakaian, makanan instan. Juga tak lupa beberapa batu baterai. Karena radio adalah hiburan satu-satunya disini. Maka kehabisan batu baterai menjadi masalah besar. Hehe. Karena warung terdekat berjarak sejam perjalanan. Dan harus melalui jalanan sungai kering tadi. Aduh pinggangnya mas.

Lanjut Menuju curup Goa Mata

Kami beristirahat sejenak di pondokan itu sebelum berjalan menuju tujuan utama kami. Apalagi kalau bukan curup Goa Mata. Jaraknya sudah sangat dekat, tak sampai 20 menit perjalanan. Kali ini kami tempuh berjalan kaki.

Masih melalui areal kebun kopi, hanya saja kali ini jalanan mulai menurun. Cuaca siang itu berawan, menyelamatkan kami dari kehausan. Apalagi bekal kami kali ini terbilang tipis.

Terus terang saja kami tidak mengira perjalanan ini ternyata begitu jauh.

(bersambung ke Bagian 2)

banner 468x60
Tags:
author

Author: 

3 Responses

  1. Yuk! Wisata Lebaran 2019 di Pagar Alam dan Lahat - TheWalkingDoctor5 months ago

    […] Bila menghendaki tantangan lebih, anda harus mencoba mengunjungi curup Maung. Meskipun aksesnya terbilang sulit, pemandangannya luarbiasa. Artikel lengkap mengenai curup Maung bisa anda baca Eksotisme Curup Maung dan Curup Maung, Pesona Lahat nan Eksotis. Baca juga tulisan kami tentang mitos curup Goa Mata di Lahat. […]

    Reply
  2. Green Canyon Lahat: Miniatur Grand Canyon - TheWalkingDoctor5 months ago

    […] tempat ini juga cukup baik, bila dibandingkan lokasi wisata lain yang minim fasilitas seperti curup Goa Mata ataupun curup Maung. Hanya saja sangat disayangkan akses jalan yang masih menyulitkan pengunjung […]

    Reply
  3. Curup Goa Mata yang Tersembunyi di Lahat (Bag. 2) - TheWalkingDoctor5 months ago

    […] Tulisan ini adalah bagian kedua dari perjalanan kami menuju curup Goa Mata. Bagian pertama dapat anda baca disini. […]

    Reply

Leave a Reply