Melawan Stigma

Kabupaten B, Jawa Tengah.

Sembilan tahun sebelum Rumah Dinas.

“Lebih baik saya mati dok. Daripada kaki saya diganti kaki palsu.”
Pria itu bersikukuh.

Chris si dokter menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sudah kehabisan cara.
Perawat pria di sebelah Chris tampak kesal. Chris memberi tanda dengan tangannya kepada si perawat, agar dia tak berbicara. Perawat itu menggumankan sesuatu yang tidak jelas. Lalu keluar dari kamar periksa.

Siang itu sepi. Pasien sudah mereka selesaikan sepagian tadi.
Pertengahan musim panas seperti ini. Para petani lebih aktif di ladang pada pagi hingga siang. Bawang sebentar lagi panen. Pasien akan lebih banyak datang pada sore atau malam hari.

Chris hanya tersenyum. Ia memberikan secarik resep. Dan menyuruh pria tadi mengambil obatnya.
Pria itu tampak canggung.

Ia bertubuh kurus. Matanya tampak lelah. Wajahnya keras. Usianya sekitar 10 tahun di atas Chris kala itu. Pakaiannya lusuh. Kemeja lengan Panjang yang koyak di beberapa tempat karena rokok. Ia membawa sebuah tas punggung yang tak kalah lusuhnya. Celana panjangnya dibiarkan terjuntai nyaris menutup hingga telapak kakinya.

Si pria berdiri. Membungkukkan badannya ke arah Chris. Mereka tidak bersalaman – Chris paham. Kebanyakan orang seperti pria itu akan menunjukkan sikap yang sama.

Pria itu berjalan dengan menyeret kedua kakinya.
Setiap beberapa meter melangkah. Tampak ceceran cairan tubuh menetes dari sandal jepitnya. Kedua telapak kakinya tidak memiliki lagi kulit utuh. Hanya lapisan jaringan granula yang secara rutin terinfeksi.

Jalannya diatur. Agar tidak terlalu banyak cairan tubuh itu menetes di lantai. Mengotori tempat orang lain.
Chris tidak bisa membayangkan. Berapa banyak orang yang mungkin sudah memarahi pria muda itu.

Tapi tidak. Pria itu tidak merasakan sakit. Karena kakinya sudah mati rasa.
Bila ada infeksi. Baunya lah yang mengantarkan pria itu berobat. Bukan rasa sakitnya.

Lebih dari itu. Yang lebih menyakiti pria malang tersebut adalah perasaannya.
Batinnya yang jauh lebih sakit.

Chris menghela napas panjang.

Menghadapi pasien yang tidak dapat ditolong bukan hal yang sama sekali menyenangkan. Bagi dokter manapun.
Begitupula Chris. Upayanya mengirim pria tadi ke rumah sakit rujukan hanya berakhir penolakan.
Ia bahkan hanya tinggal selama 2 minggu. Sebelum akhirnya minta pulang.

Ia menolak amputasi. Baginya lebih baik mati daripada harus diamputasi. Chris sudah menerangkan, bahwa kakinya akan diganti oleh prothesa. Gratis. Dan dia akan bisa bekerja kembali.

Pria itu menolak.

Dan inilah dia. Diantar oleh dua petugas yang baik hati dari RS rujukan kusta. Kembali lagi ke puskesmas. Ke kampungnya.

Tidak ada yang menyambutnya disini.

Kedua orang tuanya tiada. Istri dan seorang anaknya sudah meninggalkan pria itu setahun yang lalu.
Tidak berpenghasilan. Sakit. Sendirian.

Sungguh Chris merasa perutnya diaduk-aduk.

Chris memanggil Alam, si petugas kebersihan.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya.
“Embungeun nya dok? (tidak mau ya dok?)”
Chris mengangkat kedua bahunya. Alam mengambil koran bekas dan cairan pel.
Kusta bukan perkara baru bagi Chris. Namun menghadapi pasien seperti tadi membuat perasaannya mengharu biru.

Tempat kerja Chris ini merupakan daerah endemis. Kantung kusta.

Dan sayangnya, kecacatan tingkat 2 macam itu bukan lagi ada. Melainkan banyak.
Kustanya sendiri bisa dituntaskan dengan obat. Gratis. Jarang sekali ada kasus kusta yang kambuh.
Namun kecacatannya bisa menetap. Kecacatan itu membuat banyak dari mereka kehilangan pekerjaan.

Kehilangan keluarga. Karena dicap kusta seumur hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *